Kamis, 09 Mei 2013

HOPE

Make A Hope For My Life
(Kenangan Bersama Almarhumah Mbak Erly (Risya Erista--Nama Facebooknya))


"Getirnya hidup memang bukanlah hal yang mestinya membuat kita mundur membuat langkah. Karena langkah yang kita jalani pun tak tahu kapan akan berakhir"


Tahun 2012
Awal kali bertemu dengan seorang ibu yang seumuran denganku, bertubuh mirip denganku alias gendut, adalah sesuatu yang kemudian kusadari memberi nilai istimewa buatku. Mbak Erly semula hanya kukenal sebagai seorang teman biasa dalam sebuah komunitas yang kuikuti. Orangnya aktif, banyak ide, cerdas, dan ... maaf sedikit cerewet dan sepertinya bukan pendengar yang baik, serta sok kenal dan sok akrab. Maaf... ini penilaian awalku yang tentu saja dari waktu ke waktu berubah menjadi lebih baik.
PazMing Temanggung... sebuah ajang pasar kaget setiap hari minggu di wilayah Temanggung membuat kita semakin dekat. Sebagai sesama pedagang, kita jadi sering banget bertemu, sering banget ngobrol, dan sering banget bercanda gila. hahaha... aku mesti tertawa jika mengingat lontaran-lontaran cerdasmu ya ngocol habis. Mulailah kita saling berteman di facebook, nama facebookmu Risya Erista. Mulailah aku tahu, betapa gokil statusmu. Statusmu seperti orang kurang kerjaan, statusmu seperti anak alay belasan tahun yang sedang jatuh cinta, statusmu seperti seorang yang sedang merajuk dan berduka. Tapi, kamu selalu tulis statusmu dengan gaya gokil abis. Teman2 mu ternyata gokil abis juga, coment2nya nggilani seperti statusmu.

Waktu demi waktu...
Mulailah hidupku penuh kisahmu, yang sungguh kuakui membuat aku banyak bersyukur. Tabir hidup terbuka, siapa sebenarnya dirimu, yang membuat luntur penilaian negatifku tentangmu, dan terus ingin merangkulmu sebagai seorang sahabat, kakak, dan ibu. Salah satu yang paling ku kenang dan ingin ku bagi dengan yang lain adalah keinginanmu untuk hidup lebih baik, lebih maju, dan seember besar cita-citamu di tengah keterbatasamu. Kenapa kusebut keterbatasan? Pertama. Kamu, seorang single mother dengan 2 orang putra putri yang menjelang remaja... Tasya (Puput) dan Tera. Dan harus pula mengurus ayahanda yang manja... Hehehe, begitu kau selalu bercerita, si ayah nih, kalo nggak di siapin makan, nggak makan. Disiapin pun harus sudah di ambilin di piring, disendokin sayur dan lauknya. Susahnya kalo pas lauk ikan, harus dilepasin dulu dari durinya. hehehe... Suatu hari, karena kamu banyak kerjaan, si ayah di beliin kupat tahu dan masih dalam bungkusan. Dan kamu nggak sempet nungguin Si ayah makan, dan alhasil. Si ayah cuma makan ketupatnya, tanpa sayuran pa lagi bumbunya. hehehe... Kamu tepok jidat.
Keterbatasan kedua, kamu memiliki buanyak penyakit, diabetes, sakit di ususmu, pernah stroke, ada myom di rahimmu.... Ah banyak banget sih. Tapi, kamu tetep selalu gembira dan semangat. Bahkan ketika kamu mencoba hidup sehat ala Herbalife, kau begitu inspiratif. Berat badanmu turun. Berapa ya mbak... 20 kg ya? dan kau merasa lebih baik. Bahkan lebih sehat. Mata kananmu yang semula akan tertutup karena pernah stroke, menjadi melek sama ukuran dengan yang satu. Dan wajahmu lebih cerah. Dengan antusias tinggi, kau pun ikut menjadi salah satu konsultan herbalife.
Kantin Kartini mu di depan SMA 1 Temanggung, sangat asyik buat nongkrong dan ngobrol ya. Beberapa waktu sebelum engkau pergi, kita sempet ngobrolin soal Popeye mu... Hehehe, kamu abis di lamar ma Popeye mu yang belum sempet kau ceritakan ke aku, belum sempet pula aku melihat wajahnya. Tapi,... kisahmu yang satu ini pun menggambarkan bebanmu yang sangat berat. Setelah sekian lama menjadi single parent, ada seorang pria yang ingin menjadi pendampingmu, tapi sayang beliau ada di Kalimantan, dan lagi-lagi... bagaimana dengan si Ayah? Si Ayah nggak mau di tinggal dan nggak mau pula di ajak. Entahlah, penyelesaian apa yang harus kau ambil untuk mengatasi ini.
Ayah... selalu si Ayah. Kamu harus sering berbohong ketika harus pergi ke suatu tempat yang jauh untuk mencari nafkah. Suatu ketika, begitu kisahmu... kamu harus ke Jogja, dan aku tahu... kamu temennya Valentino Rossi... hehehe... tukang ngebut. Dan setiap waktu, kamu harus berbohong, setiap sms si Ayah... kamu bilang baru sampe Magelang, padahal kamu dah nongkrong lama di Jogja. Trus  kamu bilang masih di Jogja, padahal kamu dah nongkrong di Cafemu. Itu semua karena si Ayah tidak ingin kamu ngebut2. Hehehe,...
Cita2mu bersamaku adalah mengembangkan Cafe Kartinimu menjadi tempat nongkrong yang asyik. Depan Cafe, tengah pakaian dan asesoris, dan belakang konsultan Herbalife... bersama Aria Handi Silvianti... salah satu teman dan sahabat nongkrong kami. Kamu sering sebut kita... aku dan kamu adalah Si Gendut Insyaf... hehehe.
Semua belum tercapai ya mbak, karena tiba2 kau pergi meninggalkan kami. Sakitmu cuma sebentar,... Jatuh di depan kamarmu menjelang subuh dan di larikan ke rumah sakit. Pendarahan otak katanya, dan kau menghembuskan nafas terakhirmu di sana.
Putrimu... putrimu Tasya... sungguh dia sangat dewasa menghadapi kepergianmu. Dia kuat, sungguh aku yang tak sanggup melihatnya. Mbak Erly, meski cuma sebentar aku mengenalmu, tapi... kamu sungguh membuat aku bersyukur atas keadaanku sendiri yang jauh lebih baik darimu. Kamu yang begitu banyak keterbatasan saja, berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan cita2mu dan tak pernah menunda. Meskipun aku tahu, belum satupun cita-citamu yang tercapai, karena waktu telah membatasimu. Tapi itu menyadarkanku, bahwa aku bisa... aku bisa... dan aku harus melakukannya. Sekarang. Besok, siapa tahu sang Khalik memanggilku.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar